Anak Jalanan Pun Ingin Merdeka


Kemerdekaan itu adalah cerita bagiku, saat semua benar-benar nyata terjadi dan gelombang kemerdekaan pun terasa sangat kuat dalam pribadi setiap masyarakat. Namun, beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman dari Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran UNM melakukan sebuah penelitian lembaga, penelitian tersebut untuk mengamati kondisi psikososial yang ada pada anak jalanan di berbagai titik yang ada di kota Makassar. Dari hasil observasi kami, dan wawancara dengan anak jalanan sehingga penulis memperoleh inspirasi untuk menuliskan apa yang mereka rasakan, dan bagaimana hidup yang mereka alami di jalanan.

Tentunya, mungkin kita sudah tidak asing tentang sosok anak jalanan, karena hampir di setiap penjuru kota, kita dapat dengan mudah menemukan mereka. Anak jalanan atau biasa disingkat anjal adalah potret kehidupan anak-anak yang kesehariannya sudah akrab di jalanan. Anjal sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya.

Data BPS tahun 2009 menunjukkan jumlah anak jalanan telah mencapai 230,000 anak. Jumlah yang sangat fantastis. Jauh melebihi jumlah anak jalanan yang meningkat pesat pada masa krisis ekonomi di akhir tahun 90-an yang mencapai 400% dan diperkirakan ada 150,000 anak jalanan di Indonesia.

Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia merupakan persoalan sosial yang kompleks. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi “masalah” bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat dan negara. Namun, perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalah saudara kita. Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.

Mungkin jika kita menemukan anak jalanan yang berkeliaran, selalu yang ada di benak kita adalah anak kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu pelajaran yang lebih berharga di balik semua itu.

Anak jalanan memiliki suatu kelebihan yang tidak kita miliki. Apa kelebihannya? Tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk 1 tujuan yaitu mencari uang untuk hidup 1 hari. walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetap bersyukur, selalu ceria dengan harinya dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Namun bagaimana dengan kita? Kita tidak tiap hari merasakan kekejaman dunia, hanya pada waktu tertentu saja namun lebih parahnya kita selalu gampang berputus asa bila mengalami kegagalan dan yang lebih parahnya lagi kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punyai saat ini. Sekarang lebih hebat manakah ? Kita atu anak jalanan?

Kondisi Psikologis

UUD 1945 Pasal 34 ayat 1: “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara…” Undang-Undang Dasar 1945 jelas-jelas mengamanatkan kepada Negara untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak yang terlantar, namun faktanya justru banyak anak-anak terlantar yang dipinggirkan oleh Negara, bahkan dilirikpun tidak.

Komunitas Pecinta Anak Jalanan merupakan salah satu wadah untuk mengatasi permasalahan anak jalanan di Makassar. Beberapa relawan bertugas mengurus masalah anak jalanan, kesulitan mereka kemudian, anak-anak jalanan makin banyak dan malah berkembang. Yang sudah di sekolahkan malah keluar dari sekolahnya serta kembali menjadi peminta-minta. Menurut teori reinforcement: “sesuatu yang menyenangkan akan selalu diulang, sesuatu yang tidak menyenangkan akan dihindari”. Mereka menganggap sekolah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan (punishment) dan dengan meminta-minta di jalan adalah sesuatu yang menyenangkan (reward) karena akan mendapatkan banyak uang untuk bersenang-senang.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan anak-anak ini? Mereka yang tergolong kecil dan masih dalam tanggung jawab orang tuanya harus berjuang meneruskan hidup sebagai anak jalanan dan terkadang mereka menjadi sasaran tindak kekerasan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi ada juga sebagian orang tua yang dengan alasan untuk membantu ekonomi keluarga, menganjurkan agar anak-anaknya untuk menghabiskan masa kecilnya sebagai anak jalanan.

Banyak faktor mengapa mereka menjadi anak jalanan, disamping masalah ekonomi keluarga, salah satunya adalah kurangnya pendidikan. Usia mereka yang relatif masih kecil dan muda seharusnya masih dalam tahap belajar dan merasakan sebuah pendidikan, tetapi mungkin karena dengan alasan tertentu, mereka malah asyik menikmati hidup sebagai anak jalanan dan tidak mementingkan sebuah pendidikan.

Jika fenomena anak jalanan dikaitkan dengan Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa manusia memiliki Id, Ego dan Superego. Id adalah keinginan / hasrat badaniah manusia, misalnya ingin makan, ingin minum, hasrat sex, dll. Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada diluar dirinya, mengatur kepribadian, tempat kedudukan intelegensi dan rasionalitas. Superego merupakan kode moral seseorang, yang memberikan larangan-larangan bila dianggap tidak benar.

Manusia dianggap ideal bila memiliki Id, Ego dan Superego yang sama besar, yang seimbang. Anak-anak jalanan memiliki Id yang lebih besar dari pada Superego. Ini terbentuk karena tidak adanya didikan, sopan santun dan tata krama dari orang tua. Seorang anak akan dimarahi dan diperingati oleh orang tua mereka bila makan sambil jalan sehingga superego mereka akan terbentuk (bahwa makan sambil jalan itu adalah sesuatu yang tidak benar) tetapi seorang anak jalanan tidak pernah ada yang memperingati mereka bila mereka kencing sambil berjalan sekalipun.

Memaknai Kemerdekaan

Tiga hari yang lalu, Bangsa Indonesia telah memasuki usia yang ke-66 tahun. Kerdekaan telah diperoleh namun benarkah bangsa ini benar-benar merdeka? Sejatinya, makna kemerdekaan bukan hanya lepas dari penjajahan saja namun lebih dari hal itu yakni bebas dari kebodohan serta kemiskinan. Inti kemerdekaan bagi sebuah negara adalah kemampuan bangsanya dari kebodohan dan kemiskinan serta perilaku culas serta korupsi para pemimpinnya. Tidak semua rakyat merasakan kemerdekaan dan mampu memaknainya, jangan sampai hanya koruptor yang berhasil merdeka dengan menipu dan membohongi rakyat.

Apakah ini arti kemerdekaan? Saat para pemimpin bergembira sementara anak jalanan masih terus berjuang melawan kejamnya jalanan. Usia ke-66 Indonesia ini, layak untuk direnungkan dan disadari bersama bahwa iklim kemerdekaan belum secara nyata memerdekakan anak bangsa dari belenggu keterpurukan dan keprihatinan. Kemerdekaan yang diyakini sebagai jembatan emas menuju terwujudnya tujuan-tujuan nasional Indonesia juga masih belum maksimal disadari. Menyadari amanah kemerdekaan dan dengan usaha sadar pula mampu merawat kemerdekaan itu dengan memusnahkan segala perilaku culas dan koruptif dalam kepengelolaan negara dan pemerintahan.

Menteri Sosial Salim Segaf Al’Jufrie mengatakan, pada tahun 2014 diharapkan tidak ada lagi anak jalanan di Indonesia. “Kita harapkan tidak ada lagi anak jalanan tahun 2014,” kata Salim di Kota Solo, Rabu (10/8/2011).Menurutnya, semua pihak harus tergugah untuk ikut mengentaskan anak jalanan, termasuk gelandangan dan pengemis, yang jumlahnya lebih dari 200.000 di seluruh Tanah Air. “Mungkin mereka tidak ada pilihan sehingga terpaksa menjadi anak jalanan, gelandangan, atau pengemis. Semua pihak perlu ikut serta memberdayakan mereka, termasuk perusahaannya melalui CSR, Corporate Social Responsibility,” kata Salim.

Mereka perlu mendapatkan hak-haknya secara normal sebagaimana layaknya anak, yaitu hak sipil dan kemerdekaan (civil righ and freedoms), lingkungan keluarga dan pilihan pemeliharaan (family envionment and alternative care), kesehatan dasar dan kesejahteraan (basic health and welfare), pendidikan, rekreasi dan budaya (education, laisure and culture activites), dan perlindungan khusus (special protection). Anak jalanan pun berhak untuk merdeka, tak perlu menunggu 2014. Semoga saja tuhan menjawab doa-doa tulus anak-anak jalanan, karena mereka pun ingin merdeka. Kemerdekaan bagiku adalah saat para anak jalanan pun ikut merasakan kemerdekaan itu dengan nyata.

 

Oleh : Wawan Kurniawan

Peneliti Muda LPM Penelaran UNM

Mahasiswa Psikologi UNM

Berita Terkini :

Berikan komentarnya !!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s