Romantisnya Hujan


hujan

Tahukah kamu rasanya memiliki dunia?

Itu rasa ku saat jatuh cinta padamu. Siang itu indah tapi malam lebih indah. Panas itu hangat dan dingin itu sejuk. Terik matahari bagai pelukan, sinar bulan bagai ciuman.

Cinta kita seperti purnama, penuh dan sempurna. Hanya kamu dan aku. Kita menata setiap harinya, berangan akan segera duduk bersama di pelaminan bagai raja dan ratu sehari.

Tapi kini aku ingin tahu, itu angan kita atau hanya anganku?

Kita terlalu naif. Tak ingin mengorbankan mimpi pribadi. Kita merasa cinta kita terlalu kuat, akan mampu menerjang ganasnya ombak. Kita berpisah dengan janji akan bersama kembali. Kukejar mimpiku ke negeri cina dan kau mengejar mimpimu ke negeri itu. Kita terpisah tak hanya oleh jarak, tapi juga oleh waktu. Tahukah kamu rasanya berjuang melawan waktu?

Tahukah kamu rasanya mabuk cinta? Di saat semua kekonyolan terasa romantis.

Batu karang pun perlahan akan terkikis oleh ombak. Keyakinan kita tak sekuat batu karang. Tahukah kamu rasa nya mempertahankan keyakinan saat sapuan ombak begitu deras? Aku menangis dalam senyuman. Aku di negeri asing. Tangisanku yang terdalam tak bisa kubagi dengan sosok sosok asing ini. Dan bagai batu yang dilempar ke laut lepas, kamu semakin jauh dan aku tau tak akan kembali.

Kamu hidup di tempat asing. Bukan asing untukmu, tetapi asing untukku. Kamu sering berkata kita tidak tinggal di dunia yang sama. Tapi bagaimana aku bisa ke duniamu jika pintu itu kau kunci? Tahukah kamu rasanya terkunci di rumahmu sendiri? Betapa kamu ingin masuk tapi kamu sadar kamu telah terusir? Dimana lagi aku harus tinggal?

Ingatkah kamu betapa kita mati matian berjuang mempertahankan yang sudah tak bisa dipertahankan? Kamu menyerah terlebih dahulu. Kamu yang realistis dan aku yang pemimpi. Aku masih ingin berjuang walau aku tau kita bagai telur di ujung tombak, menanti waktunya jatuh dan pecah.

Dan saat kita telah sama sama menyerah, kita malu untuk mengakui bahwa kita telah keliru. Bahwa cinta kita tak seperti purnama yang sempurna. Bahwa cinta kita tak lebih kuat dari batu karang. Bahwa ego kita lebih besar dari cinta kita. Bahwa kita terlalu naif. Bahwa kau tidak merasa aku cukup dewasa untukmu berbagi duniamu. Bahwa hubungan kita tak lagi di ujung tombak, tapi telah pecah seutuhnya. Kita malu mengakui semua itu. Dan kita hanya mengakhirinya dalam diam.

Tapi tahukah kamu apa yang paling romantis dari hujan? Bahwa hujan akan terus kembali meski dia tahu rasanya jatuh berkali-kali. Manusia akan tetap jatuh cinta meski telah merasakan perihnya jatuh cinta, berkali kali.

Dan aku telah jatuh lagi.

Aku menutup surat yang kau kirimkan. Surat itu tiba tiga bulan sejak kita terakhir berbincang. Bukan percakapan hangat tapi percakapan dingin dalam barisan teks yang kita tahu hanya sebatas basa basi. Surat yang penuh dengan pertanyaan tahukah kamu.

Aku pun ingin bertanya, tahukah kamu sulitnya melupakanmu? Tahukah kamu apa yang mendasari sikap dinginku padamu? Tahukah kamu aku tak ingin membawamu dalam hidupku yang belum pasti di negeri ini?

Tapi seperti yang kamu katakan, yang paling romantis dari hujan adalah hujan akan terus kembali meski dia tahu rasanya jatuh berkali – kali.

Dan aku harap aku akan jatuh lagi.

Sumber : Kemudian

Iklan

Berikan komentarnya !!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s